Berharap Fajar Segera Tiba
Farah menutup bukunya. Ia tak lagi konsentrasi memelototi buku paket biologi di depannya. Pelajaran anatomi tumbuhan siang itu sangat membosankan. Ia kini beralih memelototi bu Linda yang suaranya semakin terdengar kecil karena teman-temannya pun mulai gerah dan berisik. Farah menatap teman-temannya satu per satu. Wajah mereka menampakkan kebahagiaan dan keceriaan meski penat menyelubungi kepala mereka.
Sedang dirinya? Ia bukan hanya penat karena pelajaran-pelajaran yang begitu sulit dipahaminya. Tetapi juga oleh hidupnya yang membosankan. Di antara teman-temannya, memang Farah yang mengecap hidup ini dengan rasa pahit. Sehari-hari sepulang sekolah, ia harus bersiap-siap berdandan selayaknya penari profesional. Ia dan teman-teman satu teamnya, mencari nafkah sebagai penari keraton, yang hampir setiap saat dipanggil untuk menghibur tamu-tamu Sultan dari luar kota. Jadi, sudah dipastikan, Farah sudah mampu menafkahi dirinya sendiri.
Ibunya, bekerja untuk dirinya sendiri di ibu kota. Ayahnya, entah dimana. Farah bahkan belum pernah melihat wajah ayahnya itu sejak ia dilahirkan. Namanya, Farah pun tidak tahu. Nama ayahnya yang tercantum di akta kelahirannya, entah itu nama siapa. Tragis. Perih. Bagi seorang gadis cilik sepertinya, sejatinya ayah dan ibunya berada di sampingnya menjaga dan melindungi dari ancaman-ancaman yang mengintai kegadisannya.
Dia habiskan hari-harinya berdua dengan neneknya yang tidak lain adalah ibunda ibunya, di rumah sederhana di komplek keraton. Dua perempuan itu, lebih memilih saling membisu kala bersitatap. Neneknya, ia tak mau banyak bicara. Karena sekali pembicaraan dibuka, maka tema tentang si ayah kembali di angkat. Dan hasilnya akhirnya hanya pertengkaran kecil di antara keduanya. Farah lebih memilih mengalah untuk diam. Meski batinnya tak henti-hentinya bertanya tentang ayahnya yang sangat misterius.
Ia kesal. Sangat kesal. Pada neneknya, pada ibunya. Mengapa orang-orang tua macam mereka tidak rela anaknya mengetahui siapa ayahnya. Sebuah perbuatan yang lebih kejam dari pada mengubur hidup-hidup anak perempuan yang dilakukan orang-orang jahiliyah dulu. Ya, lebih kejam. Memutuskan nasab seorang anak perempuan dari walinya. Mengapa tidak sekalian saja dia dilenyapkan dari dunia, dari pada dia harus hidup menatap dunia ini seorang diri. Tanpa nasab yang jelas.
Pun ibunya di ibu kota sana. Entah apa yang dikerjakannya. Hanya sekali dua kali dalam setahun ibunya mengirimkan uang untuk hidup mereka berdua. Hal itu semakin membuat hati Farah penuh dengan kebencian. Sikapnya lebih dingin dari es. Senyumnya lebih kecut dari jeruk yang masih muda. Tatapannya lebih sinis dari tatapan musuh kepada lawannya. Yang ada dalam benaknya hanyalah bagaimana ia esok bisa mengecap kebahagiaan yang sampai detik ini belum berkenan berpihak padanya.
Farah, ia terlalu belia untuk menjalani hidup yang terlampau keras. Jiwanya telah terluka sejak 15 tahun yang lalu tangisnya memecah keheningan malam. Entah apa yang menyebabkan dirinya ada. Jika memang ia lahir karena cinta dan kasih sayang ayah dan ibunya, mengapa ia disia-siakan. Cerita yang pertama dan terakhir ia dengar tentang ayahnya dari ibunya, adalah karena keduanya beda agama. Karenanya, ayah lebih memilih pergi meninggalkan ibunya yang tengah mengandung dirinya.
Namun, neneknya menceritakan kisah yang berbeda tentang ayahnya. Menurutnya, ayahnya pergi meninggalkan dirinya yang masih berupa janin, karena memang dia bukan lelaki baik-baik yang bertanggungjawab. Ia kerap bergonta-ganti perempuan. Dan neneknya justru bersyukur dia pergi, karena laki-laki brengsek seperti dia tidak pantas menjadi suami untuk anak perempuannya apalagi ayah untuk cucunya.
Cerita lain lagi dijungjingkan oleh tetangga-tetangganya. Ibu-ibu Rt yang hobi ngerumpi di gang-gang kampung, mereka kerap membicarakan tentang dirinya. Sikap mereka yang mengacuhkan keberadaan diri dan neneknya itu, semakin menyimpulkan jelas mengapa dirinya disia-siakan. Begitu pahit Farah menelan kenyataan hidupnya. Drama hidupnya mengalir pilu, jauh dari makna nama yang dimilikinya, Farah, yang artinya bahagia.
Hari-hari yang dilewatinya begitu membuatnya jengah. Ia ingin sesuatu yang baru. Satu mimpinya yang kerap hadir dalam tidurnya adalah bertemu dengan ayahnya. Namun setiap kali mimpi itu hadir, wajah ayahnya terhalang oleh kain hitam yang kusam. Dan ketika ia mencoba membuka tabir itu, ia terbangun oleh adzan Subuh yang melengking keras dari mushalla di depan rumahnya. Selalu seperti itu. Hingga ia bosan dan tak lagi berharap untuk bertemu ayahnya di dalam mimpinya.
Dan di setiap waktu pagi datang, hatinya bergumam, “ Semoga hari ini adalah waktuku untuk tersenyum bahagia.” Namun, sekali lagi, ia dapati hari-harinya tidak jauh berbeda dengan hari-hari yang telah lalu. Dan Farah pun tidak tahu, apa yang kelak dapat membuatnya tersenyum bahagia. Yang pasti, ia hanya menginginkan hatinya bahagia, tidak ada duka dan semuanya terasa damai.
Di sekolahnya, ia mencoba untuk seperti teman-teman seusianya yang lain. Bercanda, belajar bersama, nongkrong di pinggir jalan saat menunggu angkot, dan segala kekhasan anak usia sekolah SMA yang masih mencari jati dirinya. Meski tak sedikit kekhasan itu Farah singkirkan, karena tidak sesuai dengan dirinya yang terbiasa dengan hidup keras, dan pekerjaanya sebagai penari keraton secara perlahan mengikis keceriaannya sebagai anak yang tengah membentuk corak kehidupannya.
****
Farah menatap keluar jendela kamarnya. Pagi itu dia memilih untuk tidak berangkat sekolah. Neneknya sakit. Di kamar sebelah, neneknya terbaring lemah ditemani oleh anak laki-lakinya yang baru kali ini menemuinya, setelah berpuluh kali diminta datang. Sesekali didengarnya batuk nenek yang semakin sering dan bertambah parau. Matanya yang sipit kini terlihat berkaca. Rasa takut kini menguasai hatinya. Takut kehilangan orang yang selama ini menemaninya meski dalam kebisuan.
Tidak ada lagi yang akan membersamai hari-harinya, jika sang nenek memang benar-benar pergi dan tak akan kembali lagi. Farah terkesiap. Ia hapus air matanya, segera ia temui neneknya yang tengah terbaring lemah. Ditatapnya mata bening neneknya itu. Ada getaran yang begitu dalam merangsek ke dalam hati Farah. Ia menunduk, air matanya semakin membanjir.
Terdengar lirih, sang nenek berucap, ”Farah, nenek tidak bisa menemanimu lagi. Waktu nenek sudah tiba. Pagi ini mungkin duka untukmu, tapi yakinlah, besok, fajar akan bersinar membawa harapan dan kebahagiaan untukmu.” Tangisnya semakin menggugu. Sedang sang nenek tersenyum lemah, keriput wajahnya seolah menceritakan cerita hidupnya yang panjang dan penuh liku. Matanya terpejam pelan. Terdengar nafasnya yang berhembus lembut. Dan, seketika keheningan begitu mendinginkan suasana hati yang tengah gerimis.
Di tengah keramaian orang berta’ziah, Farah membisu. Ia tertunduk. Ia tak sanggup menatap orang-orang disekelilingnya. Batinnya berkecamuk hebat. Ada kebencian yang kemudian menguasainya. Ia muak dengan segala basa-basi orang-orang itu. Ia pun tidak sudi menerima belas kasihan mereka. Sikapnya sedingin es di kutub, ketika satu per satu dari orang-orang itu memeluknya, menasihatinya dan menguatkannya untuk tidak bersedih, karena ada mereka yang siap berbagi. Ah, dusta. Lisan mereka memang semanis madu, tetapi tatapan mereka setajam pedang yang menusuk ulu hati.
Mereka kini telah pulang. Sang nenek pun telah diusung ke rumahnya, dalam kesendirian masing-masing. Farah duduk termenung di ruang tempat jenazah sang nenek dibaringkan. Ia tatap tempat itu tajam. Seolah sang nenek masih tertidur tenang di atas kerandanya. Kini ia pejamkan matanya. Ia palingkan pandangannya kepada sekitar. Ia berdiri, melangkah menyusuri satu per satu ruangan yang biasa sang nenek menghabiskan hari-harinya. Kamar tidurnya, dapurnya yang menghitam oleh arang, ruang tengah tempatnya menjahit baju-bajunya dan juga baju Farah, serta mushalla kecil di samping ruang tengah, yang temaram oleh lampu kuning 5 watt. Di tempat itu Farah duduk tersungkur, ia meraba sajadah hijau yang telah kusam. Wangi minyak melati begitu khas mengharumkan ruang berukuran 3x2 meter itu. Farah tersujud menangis, menyesali waktu yang telah berlalu hanya dengan kebisuan.
Seandainya waktu dapat diputar ulang. Farah kini sendiri. Anak laki-laki nenek pun telah pamit pergi. Hanya Farah bertemankan keheningan ditengah temaramnya senja hari itu. Farah duduk di kursi kayu di dekat jendela. Kursi yang biasa nenek duduki ketika senja hingga maghrib menjelang sambil lisannya melafazkan pelan dzikir, dan tangannya menghitung butir-butir tasbih. Farah selalu menyaksikan pemandangan itu saat senja, saat ia baru pulang menari.
Kini ia seolah ingin seperti neneknya. Ia kenakan kerudung putih pemberian neneknya seminggu lalu, lalu ia buka Alqur’an kecil berwarna kuning emas. Ia baca perlahan-lahan ayat demi ayat. Meski terbata-bata, ia terus mencoba. Lisannya terasa kaku. Betapa ia begitu lama tak membukanya. Bening air matanya kembali menetes, seiring dengan menitiknya rintik gemiris. Ia tertunduk. Menyeksamai hidupnya yang terasa begitu gelap. Kitab Suci pun begitu sulit ia baca. Ia mencaci dirinya sendiri.
Ia pandangi rintik yang semakin deras jatuhnya. Air matanya pun turut menderas, menitik titik di atas lembaran Qur’an yang masih terbuka. Farah tertunduk pilu. Keheningan senja itu, menyentak jiwanya. Tangannya memeluk erat Qur’an kecilnya. Ada semacam bisikan yang begitu lembut menyusup ke dalam hatinya. Bisikan yang mengepalkan tangannya, menghapuskan air matanya, dan menegakkan kembali jiwanya yang telah runtuh.
Temaramnya senja itu, telah menyalakan lentera dalam hati Farah yang telah sekian lama padam. Ya, lentera itu telah padam oleh nafsu manusia yang tidak bertanggungjawab. Farah kini bertekad menyilaukan kembali sinar lenteranya. Lentera yang cahayanya ia harapkan mampu menerangi langkahnya esok menjemput masa depannya. Ia bertekad menutup semua drama yang memilukan di episode yang telah lalu. Senja itu, ia bertekad merancang cerita hidupnya penuh dengan semangat dan obsesi. Ya, obsesi. Karena telah lama ia mengubur obsesi hidupnya demi sebuah eksistensi yang sejatinya bukan keinginannya.
Surya telah tenggelam. Senja telah bergulir waktunya. Farah membasuh wajahnya dengan wudhu. Kesejukannya menentramkan jiwanya yang sesaat tadi guncang. Raka’at demi raka’at maghrib ia tunaikan dengan penuh ketenangan. Ia tak segan menadahkan kedua tangannya menghiba di hadapan Rabbnya. Berharap maaf, cinta, rahmat, dan kebersamaan Nya.
Ya, kebersamaan Nya. Farah kini tidak berharap pada selain Nya. Tidak pada ibunya, ayahnya atau siapapun yang hanya menampakkan kepura-puraan. Keheningan malam itu, bersama temaramnya lampu kuning di mushalla nenek dulu, Farah menyusun kembali mimpi-mimpinya. Ia menarik nafas dalam, dan dihembuskannya pelan. Ia kuatkan jiwa dan tekadnya.
Ia berharap fajar segera tiba. Bersama datangnya fajar maka perubahan yang tengah dirancangnya pun diharapkan satu per satu menjadi keniscayaan. Ia selalu ingin menatap fajar demi fajar. Ia tak sabar menata ulang kehidupannya, dalam kesadarannya penuh bahwa semuanya adalah proses pematangan diri yang begitu keras tempaannya. []

Komentar
Posting Komentar