Di Balik Sejengkal Langkah Hari Ini


Senja ini, senja ke empat, untukku bernafas lega, setelah empat hari yang lalu aku rampungkan tugas besar lagi tak mudah selama lima tahun. Ada haru yang segera menyeruak, bahagia tak terperi, senyum yang seolah selalu ingin hadir, ketika setiap orang berkata “selamat, perjuanganmu luar biasa kawan. Tugas besar menantimu kembali.” Ya, meski aku sadar, hari itu bukanlah hari terakhirku berkarya, namun sungguh, ingin aku teriakkan pada alam, kini tak akan ada lagi keterbatasan yang melingkupi, dan aku akan berikan karya terbaikku. Langkahku kini tak sama seperti dulu. Jika dulu aku begitu menikmati arus, maka saat ini aku harus menciptakan arus itu. Arus baru yang akan menantang arus lain yang telah ada sebelumnya dan mereka begitu deras. Mereka nanti akan saling berpacu.
Senja ini, pekik suara barzanji di desa seberang, melayangkan pikiranku pada beberapa jejak langkah dibelakang sana. Sekepal kenangan yang teramat berharga, ia membersamai langkahku, hingga sampai pada jejakku kini. Segala warna ada di sana. Ceria, tawa, kebersamaan, kesendirian, sedih, air mata, semua bercampur dalam satu kenangan lama yang menghadirkan syukur saat ini. Semakin jauh jalan ku tempuh, semakin jelas ruang seperti apa yang harus ku tuju. Itulah, senja ini, perasaan terasa larut dalam sebuah dimensi kontemplasi yang sedari kemarin menyeruak di setiap waktu senjaku.
Lima tahun sudah, kaki ini menjejaki setapak demi setapak kota wali nan panas, sepanas watak manusia yang memadatinya. Awal yang tak biasa bagi diri yang tak biasa bercengkrama hangat nan akrab. Di sinilah pembelajaran dimulai. Satu demi satu hati mulai saling bertautan menjalin ikatan kebersamaan. Sekali lagi, tak mudah. Benturan-benturan itu pun menjadi suatu yang nyata. Sedikit kerikil yang mulai terlihat menantang langkah, ia tak mudah disingkirkan. Lagi, ia muncul dipersimpangan, atau di ujung satu episode waktu. Di sinilah diri ini belajar.
Kebersamaan, yang ia menjadi warna dominan di balik sejengkal langkah hari ini, sejatinya adalah pengorbanan tanpa batas, perjuangan tanpa ujung, dan kasih setulus do’a. Ia mahal. Tak mudah melepasnya, lalu menggantinya dengan warna lain, meski ia mirip. Setiap sudut kota ini, tak luput dari percikan warna kebersamaan itu. Lima tahun, entah seperti apa indahnya warna itu jika dapat kulihat? Ketika kurasa cukuplah jejakku sampai di sini, tak rela melepas warna itu untuk yang lain. Kenangan itu selayaknya anak kecil yang merengek tak mau ditinggal oleh ibunya, menggandulinya, sehingga berat untuk tak menurutinya.
Senja ini, wajah-wajah itu silih berganti hadir di depan mataku. Wajah-wajah yang turut bersama menuangkan kuasnya, melukiskan warna indah kebersamaan. Wajah-wajah yang sesaat baru ku pinta pamit, mereka teduh. Hati-hati mereka bagai magnet yang segera menarik hatiku untuk tak mensudahi kebersamaan ini. Wajah-wajah itu, yang telah membersamai langkahku hingga saat ini. Ingin sekali, jika saja bisa, ku ulang kembali saat-saat kebersamaan di waktu lalu.
Aku sadar, itu tak mungkin. Raga serta jiwa ini pun tak sekuat dulu. Ia lelah oleh segala yang membersamainya. Tak salah, ketika ia pun menuntut agar kusudahi jejakku sampai di sini. Letih yang menyisakan bosan, ia kuat meracuni tekadku untuk berhenti melangkah. Ketika ia mengumandangkan khutbahnya yang logis, kadang aku pun mengiyakan. Kadang harus ku dorong kuat, agar ia terpental jauh.
Di balik sejengkal langkah hari ini, ada satu wajah yang setia mengiringi, meski ia tak dapat ku tatap, serta satu wajah yang teduhnya mendamaikan, cahayanya menerangkan, pun senyum dan do’anya menyemangati. Wajah yang tak kudapati lagi di dunia ini, ia adalah wajah yang menyiratkan selaksa peristiwa, tangan kekarnya kurindu untuk digandeng, senyum manis di tengah keriputnya, derap langkahnya yang mengagumkan, ia tak ada yang menyamai. Ia tak membersamai langkahku, namun ia mewarnai langkahku. Ialah lelaki tertampan yang pernah ku tatap dalam wajahnya. Wajah yang tak akan mungkin lepas dari kenanganku, meski ia telah sepuluh tahun tak kutatap lagi.
Satu wajah lain, wajah tercantik di dunia ini. Wajah yang selalu terhiasi oleh senyum tulus ketika ku sejenak “singgah” di istananya, tempat ku lahir dari rahimnya. Bibir yang tulus mengalunkan do’a meski tak pernah kupinta, tawa bahagia yang menghangatkan saat ia mendapati kebersamaan anak-anaknya menemaninya. Wajah itu, bagian dari warna yang menghiasi jejak perjuanganku. Langkahku saat ini, tak lebih adalah karena do’a-do’a penuh harapnya untuk Dia berikan rahmat tak terhingga untuk bungsunya ini.
Di balik sejengkal langkah hari ini, sejarah telah terukir di atas prasasti kehidupan yang ukirannya semakin tajam dan indah. Kuucapkan terimakasih kepada mereka yang telah membersamai langkahku dalam suka, duka, tangis, canda, susah, lapang, semuanya sungguh indah bersama kalian dalam dekapan ukhuwwah. Semoga ukiran prasasti sejarah kita, kelak akan bercahaya menerangi langkah-langkah kita kemudian ia akan menerangi rumah kita di Firdaus sana. Insya Allah.

 Cirebon, 21 Januari 2011

Komentar

Postingan Populer