Ibu, 29 kini ...
Assalamu’alaikum
ibu. Selamat pagi. Seperti biasa dipagi yang masih dingin, kau pasti akan terbangun
dan membasuh wajahmu dengan wudhu. Lalu kau berdiri di atas mihrabmu, dan kau
mulai berdoa kepada Nya. Kau tengadahkan tangan penuh lembut, kau ucapkan
bait-bait harap untuk anak-anakmu, untuk orang-orang yang kau cintai.
Saat semburat
fajar mulai terlihat, kau siapkan teh manis hangat dan cemilan lezat untuk kami.
Lalu kita duduk bersama, menikmati hangatnya teh yang kau buat dan bercengkrama
bersama, membuat suasana pagi semakin
indah. Kadang kita tertawa bersama ketika bercerita tentang kelucuan dua
bocah kecil di rumah kita. Kadang kita serius saat menerawang masa depan kita
semua.
Ibu, di sini
aku hanya bisa membayangkan itu semua. Betapa indahnya jika itu semua akan
terus kurasakan saat ku kembali ke rumah. Banyak hal yang kulewatkan dalam sepi
dan sendiri di sini. Bukan karena tak ada kawan, namun sepi dan sendiri sudah
menjadi teman terbaik bagiku. Setelah sekian panjang perjalanan yang ku lalui, tak
ku temui kedamaian kecuali saat ku sendiri dan membayangkan segala yang indah
yang pernah kita lewati.
Ibu, taukah
engkau? Kini 29 tahun sudah ku lalui. Ya, usia anakmu yang bungsu ini hampir
sepertiga abad. Banyak perubahan yang terjadi sepanjang waktu itu. Emosi,
karakter, sikap dan juga fisik. Baju-baju yang dulu pernah kau jahitkan
untukku, sudah terasa sempit.
29 tahun kini,
ingin aku ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya padamu. Juga maaf yang
sedalam-dalamnya darimu. Atas segala jasa dan kasih sayangmu yang tak terbatas
dan terkurangi meski kini aku bukan lagi seorang bocah kecil yang harus selalu
kau belai. Maafku untuk semua sikap dan kataku yang sering kali mengoyak
hatimu, menyisakan perih dan mengalirkan airmatamu. Maafku karena ku belum
mampu menjadi anak yang berguna untukmu.
Ibu, dihampir
sepertiga abad ini, aku ingin merajuk do’a darimu. Sebutlah selalu aku dalam
setiap bait-bait do’amu. Dalam setiap sujudmu di sepertiga malam terakhir,
doakanlah anakmu ini agar selalu berada dalam rahmat Nya, ridho’Nya dan juga
ridho’ mu. Karena hanya itu yang kubutuhkan. Doa darimu yang mampu membuatku
menjadi manusia yang paling bahagia di dunia dan di akhirat.
Ibu, di 29
kini.... aku masih berjalan menerawang masa depan dalam ketidakpastian. Bantulah
aku menyibak segala aral di jalan ini dengan do’a dan kasih sayangmu. Kuatkanlah
aku dengan senyummu, dengan nasihatmu dan semangat yang tak pernah padam
darimu.
Pinjamilah aku
hatimu, agar ku mampu tersenyum saat hati terhiris. Agar ku mampu tetap tegak
melangkah saat badai berkali-kali menjatuhkanku. Pinjamilah aku hatimu agar ku
mampu memaafkan sehancur apapun hati ini. Agar ku mampu melapangkan sesesak
apapun nafas ini.
Ibu, di 29
kini..... temanilah aku agar aku tak takut menghadapi masa depan. Agar ku tak
lagi menangis saat kehidupan kembali menorehkan luka. Agar aku mampu untuk
terus tersenyum melewati setiap episode waktu dan akhirnya kita akan tersenyum
bersama, mengakhirinya semuanya di syurga Nya. Aamiin.
Taman Firdaus,
29 Agustus 2015
_Dari Anakmu di
29 usianya_
Ibu.. andaikan aku masih bisa bertemu denganmu, satu jam saja.. akan kubayar dengan apapun yang aku punya..
BalasHapusnikmatnya yang masih bisa menatap langsung wajah teduh ibunya... jangan sia-siakan nikmat itu...
Ibu bikin cerita lagi. :-)
BalasHapus