Narasi Keteguhan
Bilangan hari terus
bergulir. Peristiwa demi peristiwa kembali menempati ruangnya. Mereka membawa
gradasi cerita yang masing-masing mempunyai makna untuk tak sekedar ditutup
dalam setiap slidenya. Bilangan hari yang telah berlalu, mereka adalah sejarah
yang akan memberi warna dimasa depan. Cerita yang membersamainya akan menjadi
kenangan yang tak akan lekang ditelan masa.
Tengoklah mereka sejenak.
Cari apa yang tersembunyi dari mereka. Nikmati lagi detik demi detik saat dulu
membersamai mereka. Akan ada banyak nuansa yang hadir. Perasaan yang mengharu
biru, bahagia, syukur, atau bahkan malu tertunduk kepada yang telah menulis
skenario.
Mereka, yang tertinggal di
belakang sana, bukanlah onggokan cerita lalu. Tak perlu takut menengok masa lalu,
karena ia sejatinya adalah alasan mengapa kaki melangkah hingga kini. Tak perlu
pula menyesalinya, karena ia adalah kekuatan yang menghantarkanmu menjadi saat
ini.
Lihatlah setiap jenak
episodemu dulu. Berapa banyak kekuatan yang pernah mengalir deras melalui
derasnya air mata yang mengalir. Betapa hebatnya kebesaran jiwa yang pernah
terbentuk oleh gesekan peristiwa. Berapa banyak kebahagiaan yang pernah kau
bagi dalam senyum berkulum luka, yang karenanya kau tak lagi butuhkan pundak.
Lihatlah semua itu, dan
nikmati bahwa seperti itulah kehidupan. Seperti itulah kelak kehidupan akan
kembali berulang. Dan dari sana, kau pernah belajar bagaimana mencari kekuatan.
Dari mereka kau pernah belajar bagaimana mengumpulkan kebahagiaan dari hati
yang telah hancur berkali-kali.
Kehidupan ini tak pernah mengajarkan
kekalahan. Ia hanya mengajari keteguhan meski terselip dalam kelemahan. Ia
menawarkan kebahagiaan meski tertutup embun kesedihan. Ia juga membentangkan
kesabaran, meski terlipat dalam ruang sempit kegagalan. Ia pula menyengatkan
keberanian, meski langkah untuk masa depan tertutup rapat oleh ketakutan.
Karena ia tak pernah memberi ruang di masa depan untuk sebuah ketidakberdayaan.
Ya, banyak yang tersembunyi dalam jenak-jenak kehidupan. Sibaklah, dengan
kekuatan dan kesabaran.
Kehidupan ini hanya
menghajatkan satu nilai. Keteguhan dalam menapaki setiap titah Nya. Meski
sekelabu awan hujan atau secerah mentari siang. Maka belajarlah bagaimana awan
kelabu itu kemudian hadir di dunia memberikan kesejukan dan kedamaian makhluq
Nya. Ia tak lagi kelabu. Bahkan ia mampu menghadirkan pelangi cantik di
hamparan langit.
Atau lihatlah mentari yang
terang. Ia tak pernah lelah memberi kehangatan dalam putaran waktu di dalam
jagad kehidupan. Hangatnya tak berkurang, sedikitpun, meski tak jeda hangatnya
meliputi bumi. Ya, sekelabu awan atau secerah mentari. Tuhan menghamparkan
berlimpah hikmah disetiap lipatan-lipatan episode yang ditulis Nya.
Dan, saat banyak hal tak
mampu kau pahami tentang hidup ini, teruslah jalani peranmu sebagai manusia.
Tugasmu hanya ta’at. Itu saja. Tuhanmu hendak mengajarimu banyak hal atas hal
yang tak mampu kau pahami. Lihatlah lebih dekat ke dalam dirimu. Sejauh mana
engkau telah ta’at kepada Nya. Hingga kau mampu menyibak hikmah atas ketidak
pahaman diri. Karena sejatinya tak ada rahasia yang tak mampu diurai antara
kita dengan Tuhan.
Teruslah jalani peranmu
sebagai ‘abdi Nya. Adakalanya Dia sisipkan sakinah di tengah khusyu’ ibadahmu.
Adakalanya, Dia hujankan bahagia disesak tangis sujudmu. Jalani saja ta’atmu,
kelak Dia tunjukkan jalan bagaimana kau harus bahagia akhirnya.
Bahagia itu atas ukuran
Nya. Jangan pasrahkan jiwamu atas segala harapan yang menguasai masa depan.
Arahkan dia pada satu ketetapan yang akan menyempurnakanya menjadi keniscayaan.
Tak perlu lagi kau sesali kenyataan yang tak bersambut dengan harapan. Karena
keduanya hanyalah teka-teki kehidupan. Dan kau telah mampu menyadari bahwa
hidup ini bukan sekedar untuk menarik nafas lembut, memejam mata damai, pun
merebah tanpa beban. Tak selamanya harapan lahir nyata, dan tak selalu
kenyataan mewujud tersebab sebuah harap.
Jiwamu, jangan kau
belenggu dengan mimpi-mimpi utopia. Lepaskan, lalu kau akan temui harapan di
setiap liku jalan yang kau lalui. Berjalanlah, kelak kau kan dapati kepastian
di masa depan. Melangkahlah, tak perlu khawatiri duka dan tangis yang
menyelingi. Tataplah masa depan, meski kau masih terus meraba di kegelapan.
Penerang jalanmu adalah
apa yang terselip di hatimu. Ia yang akan menuntunmu melewati kegelapan. Ia
akan menjagamu dari ketakutan. Dan ia yang akan menguatkanmu jika kau terjatuh.
Ia, yang akan membuatmu mampu berdiri tegak kembali dengan kekuatanmu. Tak akan
lagi kau cari pundak untuk berbagi. Tak akan kau cari lagi hati untuk sekedar
simpati. Karena kau mampu sendiri berdiri.
Inilah keteguhan yang
harus kau pupuk akarnya. Agar tak limbung saat badai menyapa. Agar tak luruh
saat jiwa bergemuruh. Agar tak rebah saat jasad mulai melemah. Agar tak
goyah, saat yang lain pasrah. Agar tegar
melangkah, saat tak ada lagi pundak untuk berbagi resah, karena hanya kepada
Nya bermuara segala gundah.
Teguhlah, untuk yang
kesekian kali hingga Dia tetapkan waktumu terhenti dalam narasi keteguhan
hidupmu. []

Komentar
Posting Komentar