Cahaya Benderang Huda


Siang itu, seolah tak biasanya panas matahari begitu terik. Dari sudut ruang sekolah yang sempit, wajah Huda mengkilap oleh keringat yang membanjir. Kerudung putihnya yang menjulur semakin menajamkan raut mukanya yang tampak kuyu. Kaca-kaca retak begitu jelas tergambar dimatanya yang damai. Siang itu, semangatnya bersembunyi di balik hatinya yang basah. Kucuran air wudhu saat dhuhur, akhirnya mampu sedikit memaksa semangatnya muncul, meski masih enggan.
Berjalan lunglai, dengan ransel hitam yang membuatnya seolah membungkuk, membuat wajahnya tertunduk. Menatap kosong jalan gang sempit mushalla, menyembunyikan gerimis hatinya yang sebentar lagi tumpah membanjiri halaman hatiya. Ia paksakan bibirnya menyungging senyum pada murid-muridnya, meski tak mudah. Ia tak ingin ada yang tahu ia menangis.
Siang itu, Huda terjatuh oleh tamparan perjalanan hidup yang telah dipilihnya. Tapi bukan karena dia salah memilih jalan. Tamparan itu adalah salah satu konsekuensi atas pilihannya. Baru saat itu, ia benar-benar begitu tertampar. Dan saat itu dia sadar, dia begitu lemah. Bahkan untuk sekedar menatap wajah murid-muridnya, Huda tidak sanggup.
 Shalat dhuhur siang itu, Huda begitu merasakan ketenangan yang menyengat semangatnya. Ia terisak, bahunya terguncang. Air matanya tumpah. Ia kini tak mempedulikan tatapan penuh tanda tanya murid-muridnya. Huda tertunduk, berpasrah atas sakit yang ia rasakan karena tamparan. Dipaksakan kembali semangat yang sesaat tadi bersembunyi di balik hatinya yang basah.
Siang itu, bersama lapar yang melilit, haus yang mengerang serta lelah yang mencacah raga, khutbah singkat harus disampaikannya, menutup pelajaran siang hari itu. Dia mencoba menata konsentrasinya, mengaduk kata dengan air dingin hikmah agar ruang-ruang jiwa yang kosong yang tengah ditatapnya, penuh dengan hikmah kesejukan Islam yang hanif.
Pelajaran siang itu akhirnya selesai. Murid-murid telah berlalu dengan cerianya berlari, berjingkrak seolah hidup ini hanya ada kebahagiaan. Huda sendiri masih tertegun menyeksamai cerita hidupnya yang mengalir hingga saat ini. Betapa sangat dilematis. Namun tetap ia harus memilih. Betapa harus realistis, tetapi ia harus bertahan di atas idealismenya. Huda memejamkan mata. Seketika bayang-bayang tentang masa kecilnya yang penuh gejolak menyibak duka yang begitu dalam.
Dari sana ia punya mimpi. Mimpi tentang sebuah harmoni hidup yang amat dirindukannya, sejak ia mulai mengerti manis dan pahitnya hidup. Sejak dia mulai memahami bahwa hidup ini tidak sekedar untuk menarik nafas lembut, memejam mata damai, pun merebah tanpa beban. Hidup ini bukan hanya drama percintaan yang menguras air mata dan mencacah hati, bukan pula film action yang memompa adrenalin. Hidup ini adalah perjuangan. Perjuangan pula meminta pengorbanan. Pengorbanan tanpa batas, hingga nyawa menjadi salah satu atau bahkan satu-satunya untuk dikorbankan.
Itulah yang difahaminya. Itulah yang dipilihnya. Huda telah memilih salah satu dari dua jalan dipersimpangan. Dan dia memilih jalan yang tidak semua orang melewatinya. Karena mereka tahu, jalan itu akan terjal, berkelok, licin, curam ketika melewatinya. Itu memang sesuatu yang sangat masuk akal. Orang yang waras akalnya, ia akan memilih jalan yang mulus, tak ada lubang, tidak perlu mengencangkan ikat pinggang atau mengerutkan dahi karena harus memutar otak bagaimana agar selamat sampai ujung perjalanan.
Maka tidak ada yang perlu disesali. Dan memang tak perlu disesali. Setiap jalan pasti ada likunya, ada tikungan tajamnya, namun pasti ada pula sudut di jalan itu yang teduh oleh rimbun pepohonan. Hijau, menyejukan mata, menghembus lembut angin harapan yang pasti. Di sanalah, nafas kembali ditata, raga kembali dikuatkan, fikiran kembali dijernihkan, dan langkah lebih berharmoni menjemput harapan di ujung jalan.
Huda menarik nafas dalam. Keringatnya kembali terkuras hingga menitik bening di ujung hidungnya yang memerah jambu. Ia tertunduk, tersenyum. Tamparan yang setadi mencerabut semangatnya, menyisakan syukur akan keberadaan eksistensinya sebagai seorang yang sampai detik ini masih menjadi harapan orang-orang di sekitarnya. Meksi tak sedikit kepentingan-kepentingan pribadinya yang tersisihkan, dan ia muliakan kepentingan orang lain.
****
Maticnya ia gas pelan. Hanya 20km/jam dia menyusuri jalan pulang. Matanya tajam menatap sekitar. Lagi-lagi ia berfikir tentang sebuah harmoni kehidupan yang ia impikan. Ia tak sanggup menilik dirinya yang kini bertengger di atas motor meski butut. Sementara masih ada di depan matanya, perempuan paruh baya yang menarik gerobak sampah untuk memenuhi kebutuhan gizi diri dan anak-anaknya. Atau ketika dilihatnya anak-anak kecil yang sejatinya mereka dilindungi oleh kedua tangan orangtuanya, kini kedua tangannya harus menadah melas dari mobil-mobil di setiap lampu merah.
Huda, di atas kemandirian yang masih sulit ia tata saat ini, ia mencoba menyingkirkan segala kedirian yang menggerakkan langkahnya untuk menikmati peluang-peluang kemudahan yang sejatinya menggeser idealismenya perlahan-lahan. Tak jarang ia memarahi dirinya yang tidak konsisten dengan cita-citanya, rencana-rencana hidupnya, atau target-target hidupnya karena begitu mudah ia menukarnya dengan cita-cita, rencana atau target orang lain.
Lepas itu semua, Huda tak sering menjadikan dirinya sebagai bagian dari rencana orang lain yang harus turut diselesaikan. Ia lebih memilih menjadi bagian terpisah, yang tidak selalu diperhatikan. Itulah yang membuatnya semakin merasa sendiri di tengah keramaian, asing di tengah adik-adik tingkatnya yang begitu akrab dan kerap menanti nasihatnya.
Dari sini, Huda tersadar. Ia terlalu banyak mengambil peran. Ia tak menyadari bahwa pundaknya rapuh, tangannya tak mampu terlalu jauh menggapai, dan kakinya tak kuasa melangkah telalu cepat. Ia juga lupa, bahwa ia tak sama dengan Huda lima tahun lalu yang semangatnya senantiasa terjaga. Karena kini, meski ia sadar namun tak peduli, semangatnya kian meluruh bersama luruhnya cita-citanya yang semakin membias karena tergerus waktu yang mengikis usia dan kekuatannya.
Huda lupa, ia tak sekuat dulu. Namun ia tak kuasa pula menolak semua yang mengetuk ijin untuk menjadi bagian dari kehidupannya. Seperti saat ini, murid-muridnya yang begitu menaruh harapan padanya sebagai guru teladan. Adik-adik tingkatnya yang masih menjadi lakon utama panggung pergulatan da’wah kampus, yang senantiasa “meminta” dirinya untuk menjadi referensi pemikiran atas setiap permasalahan yang mereka dapati.
Sahabatnya yang tak rela membiarkan dirinya pergi mencari kebahagiaannya, hingga ia kembali harus memilih bertahan demi kebahagiaan sahabatnya itu. Ibu, satu-satunya orang tua tunggal yang juga masih begitu mengharapkan keceriaannya hadir menghiasi istananya, memeluk erat tubuhnya yang kian melemah, serta mengecup tangannya yang kian keriput dengan sepenuh cinta.
Pun, tidak sedikit ada hati-hati yang harus dijaganya. Yang mereka pun mengharapkan perhatiannya, sikap bijaknya ketika menentukan langkah, serta senyumannya yang entah sudah berapa kali ternyata hanya pengacuhan yang Huda terima sebagai balasan. Pahit sekali ia telan itu semua sebagai realita. Namun ia kembali harus membuka mata, bahwa itu semua adalah konsekuensi atas idealisme yang telah dipilihnya. Sekali lagi, tidak perlu disesali.
Huda, di tengah-tengah peran yang mengelilinginya, ia menunduk. Ia tak sanggup memandangi peran-peran itu. Mereka menuntut dirinya menjadi Huda yang berbeda-beda. Ia tak kuasa, ia rapuh. Ia terjatuh, seperti kemarin siang ia tertampar. Nuraninya, jiwanya, pun kakinya yang kadang gemetar ketika melangkah. Ia lelah, sangat lelah. Usianya yang pula turut menuntut untuk segera disempurnakan fitrahnya, kini semakin menggugat paksa. Batinnya kini menangis keras. Perih. Ia habiskan waktunya untuk mengekskusi peran-peran yang tak pernah di jadwal dalam hidupnya.
****
Di saat senja, adalah waktu emas bagi Huda untuk mengistirahatkan jiwanya yang terlampau ksatria. Saat menikmati wajah senja yang redup oleh mendung yang menggantung, hatinya tersentak oleh sebuah kesadaran betapa tidak berartinya manusia ketika tidak mampu menghadirkan damai bagi orang-orang disekelilingnya. Saat senja datang, haru itu pun kembali menyentak ruang hatinya yang telah kosong oleh sentuhan empati yang dalam untuk sebuah pengorbanan yang menuntut cinta sepenuh jiwa dikorbankan. 
Senja itu, redupnya seolah seiya menyapa redupnya sebuah harapan Huda yang selama ini mengepal kokoh, mengacung tinggi, dan mengakar dalam. Sebuah kelemahan diri yang dari waktu ke waktu semakin diseksamainya, ternyata memunculkan jengah dan lelah untuk segera disudahi, atau lebih tepatnya, bagaimana kemudian ia dikuatkan dengan membebaskannya dari berbagai belenggu keterbatasan yang melingkupinya dari berbagai arah.
Akhirnya Huda mengakui kelemahan itu begitu kuat menguasai dirinya. Ia semakin melemahkan. Di sisi luar, ia menampakkan ketangguhan yang semu, keteguhan yang palsu serta sesungging senyum yang terkulum lemah. Ya, untuk semua kelemahan itu, topeng keperkasaan Huda telah lama membohongi banyak orang.
Raganya pun kini terkulai tak berdaya. Huda jatuh oleh ketangguhannya sendiri. Ia menyerah di atas keperkasaan jiwanya yang ternyata rapuh oleh segala yang telah membersamainya. Oleh cinta yang mengiringi langkahnya, oleh senyum yang menghiasi pandangnya, serta oleh harapan-harapan yang sejatinya begitu sulit mereka diwujudkan. Di tengah kelemahan dan kekalahan dirinya, Huda mengakuinya sebagai satu bukti ketidakberdayaan menghadapi semua peristiwa dengan hanya mengulum senyum atau raga yang tangguh menantang hujan lebat dan angin kencang. Huda mengakui, itu semua adalah topeng belaka.
Sebuah perjuangan panjang yang menyita begitu banyak energi, semakin jauh ia berjalan di atas waktunya semakin ia menuntut lebih dari sekedar keikhlasan yang selama ini mencoba Huda jaga. Ada keengganan yang kemudian mengotori sekeping hati yang keteguhannya selalu dibangun dikala terpaan badai semakin kencang menumbangkan.
Sederhananya, Huda lelah. Ia jengah. Ia bosan namun ia tak punya pilihan lain selain bertahan di atas ketangguhannya yang palsu. Sedikit semangat yang kemarin hadir berdesak masuk dari celah jendela kamarnya yang temaram oleh mendung, menghentak dirinya bahwa semuanya adalah lebih mulia dari mencari ketenangan atas jengah dan bosan yang tak pernah absen dari perguliran waktu.  Seketika, justifikasi tentang keegoisan diri yang baru saja hendak hadir sebagai pilihan langkahnya, membabi buta, meluluh lantakkan mimpi-mimpinya yang mulai melambai-lambai.  Di sisi lain, Huda sadar, ia tidak memiliki cinta yang mampu menyengatkan manisnya pada hati lain agar ia pun merasakan manisnya cinta.
Cinta itu hanya selalu dan selalu Huda wujudkan agar ia selalu menyembuhkan luka-luka. Meski tak jarang ia luruh sendiri tak berdaya, terkulai lemas menahan perih, atau jatuh tersungkur karena terpukul. Karena Huda faham bahwa sejatinya cinta itu memberi yang dimilikinya. Walau ia hanya memiliki keikhlasan, untuk melapangkan hati atas segala ketidak adilan pada cintanya.
Mengakui semua kelemahan yang ada, setidaknya Huda mampu menyibak sebuah kekuatan yang selama ini tersembunyi. Kekuatan itu, telah berbisik pada dinding hatinya untuk tak menghiraukan ketukan-ketukan semu yang hanya membuat gaduh. Kekuatan yang kadang memaksa untuk menutup rapat-rapat segala celah agar tidak ada suara-suara sumbang yang mendengung menggaduhkan ruang hati. Namun, tak jarang pula kekuatan itu melemah, manakala ruang itu telah sesak oleh keikhlasan yang tak  jeda dibalas oleh lelah didera kecewa. Perlahan-lahan Huda ‘habis’ dimamah oleh tagihan-tagihan harapan. Harapan-harapan dirinya yang tergilas oleh harapan-harapan orang-orang disekelilingnya.
Mungkinkah karena orangtuanya memberi nama Huda. Petunjuk. Ia lebih selalu menunjuki orang lain jalan menuju kebahagiannya. Ia pula selalu memilih membagi atau lebih tepatnya memberi kebahagiaannya untuk orang disamping kanan-kirinya, meksi hatinya perih tergesek hujatan, studinya yang tak kunjung purna, atau tangisnya yang tanpa suara nyaris menjadi curahan pada sang senja saat waktunya menggulir terik.
Huda, ia menjadi cahaya. Cahaya benderang yang tak lelah menerangi hati-hati orang-orang yang redup oleh cinta. Huda tersenyum, tersujud dalam penuh kesyukuran, betapa ia sadar Sang Penggenggam Jiwa telah menjadikan hatinya kaya akan cinta. Cinta yang berarti di sana pengorbanan menjadi tema abadi. Huda memiliki cinta yang tak boleh hanya ia nikmati sendiri, dalam kesendiriannya bersama senja. Cinta harus mengejawantah bersama dengan air mata, dengan ‘pahit’ yang harus ditelannya, dengan perih yang menggesek hatinya. Huda sadar dan memahami itulah perannya sebagai huda.
****
Pagi itu, selepas subuh, Huda terpejam. Ia terdiam. Ia tak lagi menangis hingga hidungnya memerah jambu. Tanggannya yang kurus memeluk erat mushhaf biru yang menjadi salah satu saksi, lemah sekaligus ksatrianya jiwa Huda. Sinar fajar pagi itu begitu hangat. Huda tersenyum sangat manis. Guratan wajahnya yang penuh dengan guratan keras seorang pejuang, pagi itu hilang tak berbekas.
Pagi itu, sinar fajar semakin memperjelas wajahnya yang elok laksana bidadari syurga. Matanya yang tajam pagi itu sangat menawan, meski terpejam. Alis tebal yang tersambung ujungnya, begitu memperjelas wajahnya yang tegar tetapi tetap lembut, layaknya kebanyakan perempuan. Dan, bibirnya, menyimpulkan senyum manis yang belum pernah tersimpulkan sebelumnya ketika ia harus menatap pahitnya hidup.
Sinar fajar pagi itu, ia menerangi dengan sangat anggun kamar kecil Huda. Sinarnya memancar dari kaca-kaca jendela yang sedikit terbuka. Namun, ada yang berbeda dari fajar pagi itu. Sinar itu, membawa seberkas cahaya yang begitu hangat dan terang pun sangat wangi. Cahaya itu sangat jelas terangnya. Ia tepat  bersinar di atas, menerangi tubuh Huda yang telah terbujur tanpa ruh.
Cahaya itu, cahaya benderang Huda. Ia wangi. Huda, kini cahayanya telah kembali kepada Pemiliknya. Hanya tersisa di kamarnya, cahaya Huda yang menjadi kenangan. Hanya ada mushhafnya, ransel hitamnya, juga buku-bukunya yang menanti untuk dibagi “ruh”nya, sebagaimana Huda telah mengajak mereka berbagi.
Mereka kini hanya mampu membisu di samping jasad Huda. Akankah ada Huda-Huda yang lain seperti Huda kawan setianya? []

Komentar